Dangling Pink Hearts

Pages

PERAN KONSELOR SEBAYA UNTUK MENGATASI KECANDUAN GAME PADA REMAJA

Rabu, 13 Oktober 2021

 “PERAN KONSELOR SEBAYA UNTUK MENGATASI

 KECANDUAN GAME PADA REMAJA”


 Oleh Egita Fiantri

Saya berkesempatan untuk melaksanakan kegiatan di semester tujuh ini berupa PPL (Praktik Pengalaman Lapangan). Guna melaksanakan PPL, saya bekerja sama dengan Panti Pelayanan Sosial Anak “Taruna Yodha” Sukoharjo. Maka dari itu, dibentuklah beberapa lembaga sosial yang dapat mengentaskan masalah tersebut. Salah satunya Panti Pelayanan Sosial Anak “Taruna Yodha” Sukoharjo. Di PPSA Taruna Yodha Sukoharjo semua anak menjadi lebih berharga dan memiliki semangat untuk selalu menimba ilmu dan semangat mengejar impiannya. Program formal yang meliputi sandang pangan, pendidikan dan lain sebagainya juga ada kegiatan nonformal yang bermanfaat bagi PM.

Sebelum dilakukan PPL, pembimbing lapangan membagi satu klien kepada semua anak PPL guna untuk diselesaikan permasalahannya. Lalu saya melakukan observasi dan asessment kepada klien, inti dari permasalahan klien adalah ditinggal meninggal kedua orang tuanya pada saat klien kelas 1 dan 2 SMP, disaat itu klien mengutuskan untuk berhenti sekolah dan bermain game hingga kecanduan.

Konselor melakukan tindakan proses konseling individu. Dalam proses tersebut terdiri dari penulis sendiri sebagai konselor dan 1 anak sebagai konseli. dalam proses konseling tersebut konselor menemukan satu permssalahan pada diri konseli, yaitu kecanduan game online. Oleh sebab itu konselor mengambil tindakan dengan menerapkan teknik Problem Free Talk sebagai salah satu teknik terfokus solusi penting yang berguna untuk membangun hubungan dengan klien, lebih mudahnya Problem Free Talk ialah membangun data dari orang terdekat klien.

Untuk mengatasi permasalahan ini konselor menggunakan dua teknik, pertama scaling (penskalan) adalah teknik yang membantu konselor maupun klien untuk membuat masalah kompleks tampak lebih konkret dan nyata. Pada tahap ini konselor meminta kepada konseli untuk mengetahui seberapa klien mengalami kecanduan dengan game online dan semakin tinggi skala yang dipilih berarti semakin tinggi pula skala kecanduan, Dan dsini skala klien yang dipilih pada tingkat kecanduan bermain game adalah di angka 9 dan setelah melakukan konseling tingkat kecanduan bermain game adalah diangka setelah melakukan proses pemberian teknik scaling klien mengalami penurunan menjadi berada pada skala 6. Walaupun tidak mengalami penurunan yang sangat dratis tetapi setidaknya teknik scaling ini bisa membantu mengurangi kecanduan game online konseli. Kedua, Self-control adalah memodifikasi perilaku kemampuan individu dalam mengelola informasi yang diinginkan dan yang tidak diinginkan, dan kemampuan individu untuk memilih salah satu tindakan berdasarkan sesuatu yang diyakini. Tujuan memakai teknik ini adalah untuk mengurangi waktu bermain game, membagi waktu antara bermain, belajar, dan bersosialisasi. Tahapannya adalah menspesifikasikan masalah dan menetapkan tujuan, membuat komitmen untuk berubah, mengambil data dan menilai penyebab-penyebab masalah, dan mencegah kembalinya perilaku bermasalah dan membuat pencapaian tujuan klien bertahan lama. Pada tahap ini klien mengemukakan dirinya merasa cukup baik. Dikatakan cukup baik karena konseli sendiri yang tinggal di asrama. Dan menurut konselor sendiri self control sendiri lebih efektif jika dilakukan saat sedang sendiri. Maka konselor mengapresiasi konseli karena sudah mampu melakukan self control, dan membuahkan sedikit hasil.

Pada saat PPL selama satu bulan, saya dan teman-teman telah melaksanakan beberapa program kerja yaitu Orientasi mengenai PPSA “Taruna Yodha” Sukoharjo, Seminar dengan tema “Santun Dalam Bermedia Sosial”, Workshop dengan tema “Jualan Online/Online shop”, Outbound, Kegiatan Hipnoterapi, dan Pentas Seni. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS